5 Cara Inseminasi buatan pada sapi Bagi Pemula

Dalam upaya mempertahankan predikat serta kualitas sebagai sapi yang memiliki keturunan yang bagus, sebagian peternak sapi biasanya melakukan cara inseminasi buatan pada jenis sapi mereka.

Ini dilakukan sebagai upaya pelayanan intensif terhadapa perkawinan sapi hingga menjaga jumlah kebuntingan,

Sebenarnya teknologi “inseminasi buatan” oleh masyarakat para peternak sapi lebih dikenal dengan istilah “kawin suntik”.

Sebenarnya apa sih inseminasi buatan itu?

Pada artikel kali ini penulis akan menjelaskan secara detail pengertiannya. Disimak Ya!

Perkembangan Inseminasi Buatan (IB)

Inseminasi buatan atau IB sudah sejak lama dilakukan pada jenis hewan peliharaan sejak berabad-abad tahun yang lalu.

Ide ini ditemukan pada abad ke-14 oleh pangeran Arab pada saat kuda perang tunggannya sedang mengalami birahi.

Dengan akal cerdik yang dimiliki nya, ia menggunakan suatu tampon kapas untuk mencuri semen dalam vagina seekor kuda musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepar karinya.

Kemudian tampon tersebut dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang birahi.

Setelah dilakukan hal tadi ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan lahirlah kuda baru yang dikenal tampan dan cepat larinya.

Inseminasi Buatan (IB)

Inseminasi buatan atau IB dalam istilah ilmiah, disebut dari Artificial Insemination (AI) merupakan perkawinan pada ternak sapi secara buatan.

Yang dimaksud diatas yakni suatu cara atau teknik memasukan sperma atau semen kedalam kelamin sapi betina sehat dengan menggunakan alat inseminasi yang dilakukan oleh manusia (Inseminator). Hal ini di tujukan agar sapi tersebut menjadi bunting.

Semen ini merupakan mani yang berasal dari sapi pejanan unggul yang dipergunakan untuk kawin suntik atau inseminasi buatan.

Inseminator

Inseminator sendiri adalah seorang petugas yang telah memiliki Surat Izin Melakukan Inseminasi (SIMI) yang sudah di didik serta lulus pada suatu latihan keterampilan khusus untuk bisa melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik.

kalangan peternak atau masyarakat yang telah memperoleh pelatihan keterampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik. Juga termasuk insemintor selain dari pemerintah.

Tujuan Inseminasi Buatan

  • Meningkatkan mutu ternak lokal.
  • Mempercepat peningkatkan populasi ternak.
  • Menghemat penggunaan pejantan.
  • Mencegah adanya penularan penyakit kelamin akibat perkawinan alam.
  • Perkawinan silang antar berbagai bangsa/ras dapat dilakukan.

Keuntangan Inseminasi Buatan

  • Mampu menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan.
  • Peternak mampu mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik.
  • Mencegah terjadinya kawin sedarah sapi betina sehingga menghindari anakan sapi yang cacat.
  • Sperma sapi unggulan dapat disimpan dengan peralatan dan teknologi yang baik dalam jangka waktu yang lama.
  • Peternak dapat menggunakan kembali semen beku untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati, sehingga bila pejantan unggulan telah mati, peternaktidak kehilangan bibit unggul yang dimilikinya.
  • Menghindari resiko perkawinan yang terjadi pada sapi beitna yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar dan tidak dapat diimbangi oleh sapi betina.
  • Menghindari dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.

Kekurangan Inseminasi Buatan

  • Jika identifikasi masa birahi sapi betina dan pelaksanaan inseminasi buatan tidak tepat maka tidak akan terjadi kebuntingan.
  • Apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan keturunan yang besar dan di inseminasikan pada sapi betina keturunan kecil, akan menyebabkan terjadinya distokia atau kesulitan kelahiran.
  • Jika dalam jangka waktu yang lama menggunakan semen beku dari pejantan yang sama, dapat mengakibatkan kawin sedarah yang dapat menurunkan kualitas turunan berikutnya.
  • Jika pada pejantan donor yang diambilkan spermanya tidak diamati sifat gennya dengan baik, dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek sehingga.

Kunci Keberhasilan Program IB

Dalam kunci keberhasilan program IB tergantung dari empat unsur, antara lain:

1. Kinerja Inseminator

Kinerja inseminator sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan program IB dilapangan, untuk itu seorang insemintaor harus mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi seperti halnya, melakukan identifikasi akseptor IB (sapi betina produktif).

2. Kondisi Akseptor

Agar program kawin suntik atau inseminasi buatan dapat berhasil dengan baik, kondisi akseptor (sapi betina produktif peserta IB) perlu diperhatikan

Adapun kondisi akseptor yang baik, antara lain:

  • Sehat, Fisik besar dan kuat.
  • Ambing besar dan elastis.
  • Puting sempurna (4 bh) dan letaknya simetris dan agak panjang.
  • Perut besar.
  • Tulang pinggul lebar.
  • Vulpa besar, licin. Mengkilat, cembung dan tidak berbulu, pada umur minimal 18 bulan.

Untuk sapi besar yang memiliki badan kecil seperti sapi bali, sebaiknya IB dilakukan setelah kelahiran anak pertama dari hasil perkawinan yang alami.

Sedangkan untuk sapi yang telah melahirkan, perkawinan selanjutnya dilakukan setelah 2-3 bulan kemudian.

3. Peternak

Peran peternak sangatlah penting dalam mendukung terlaksananya program IB, terutama dalam hal:

  • Deteksi birahi/pengenalan terhadap tanda-tanda birahi.
  • Sitem pelaporan yang tepat, terutama laporan birahi kepada inseminator.
  • Perawatan akseptor dan pedet hasil IB.

4. Kelompok Peternak Peserta IB (KPPIB)

Dalam mempermudah arus informasi dan teknologi, keberadaan KPPIB dalam pelaksanaan program IB sangatlah diperlukan, dalam penyediaan sarana dan prasarana IB seperti kandang penanganan (Kandang jepit) dan lain sebagainya.

Saat ini peternak dapat membiayai sendiri kegiatan kawin suntik pada ternak sapi, terutama saat ini telah banyak dilakukan secara swadaya, sehingga lebih mudah untuk mendapatkan pelayanan kawin suntik pada ternak sapi.

Sedangakn untuk mendapatkan informasi pelayanan kawin suntik pada ternak sapi dapat menghubungi inseminator yang berada di wilyah setempat.

Namun apabila tidak ada inseminator dapat meminta informasi baik kepada dokter hewan/mantri hewan/penyuluh pertanian setempat maupun ke dinas peternakan kabupaten/kota atau dinas yang membidangi peternakan.

Untuk memudahkan pelaksanaan secara efisien dan efektif dalam kelompok sebaiknya pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi dilakukan secara terorganisir.

Untuk mengantisipasihal ini, sebaiknya sebelum melaksanakan inseminasi buatan pada sapi atau kawin suntik pada ternak sapi terlebih dahulu harus mensinkronkan birahi sapi-sapi yang akan dikawin suntik.

Kemudian untuk dapat dilakukan lebih dahulu dengan penyuntikan hormon prostaglandin dan reprodin atau lain semacamnya.

Hal ini pada ternak sapi yang dapat mendorong dan mensinkronkan birahi sapi secara serentak sehingga dapat dilakukan kawin suntik pada ternak sapi di kelompok tani ternak secara bersamaan.

Untuk para peternak yang mengetahui ternak sapinya birahi, agar segera dapat melaporkan ke inseminator atau penyuluh agar mendapat pelayanan kawin suntik secara tepat.

Terdapat beberapa tanda-tanda birahi yang perlu diketahui oleh peternak antara lain:

  • Sering menguak.
  • Gugup dan agresif.
  • Menaiki sapi lain.
  • Kurang nafsu makan dan kurang menghasilkan susu.
  • Lebih awal bangun dari sapi-sapi lainnya.
  • Alat kelamin betina basah, bengkak, merah, hangat (Abuh, Abang, Angat yang disingkat 3 A) dan mengeluarkan lendir yang transparan.

Baca juga artikel terkait tentang: 5 Jenis Pakan Ternak Untuk Sapi Agar Cepat Gemuk

Waktu Inseminasi Buatan (IB) Yang Tepat

Umumnya, lama birahi pada sapi adalah pada kisaran rata-rata 18 jam dan agar supaya mendapatkan hasil yang baik, sebaiknya dilakukan IB pada pertengahan masa birahi.

Melakukan Inseminasi Buatan (IB)

  • Dapat dilakukan 1-3 x /minggu.
  • Harus teliti dalam menyediakan alat penampung (vagina buatan) dan terampil dalam menampung semen.
  • Melakukan evaluasi terhadap kualitas semen (gerakan massa, Motilitas, LD dan konsentrasi).
  • Hanya yang kualitas baik yang dapat diproses lebih lanjut.
  • Pengenceran dan pengawetan.
  • Mengawetkan semen beku atau semen cair (chilled semen).

Faktor Yang Menyebabkan Rendahnya Persentase Kebuntingan

  • Fertilitas dan kualitas mani beku yang jelek/rendah
  • Inseminator kurang/tidak terampil
  • Peternak tidak atau kurang terampil mendeteksi birahi
  • Pelaporan yang terlambat atau pelayanan Inseminator yang lamban
  • Kemungkinan adanya gangguan reproduksi kesehatan sapi betina.
  • Faktor paling penting yakni mendeteksi birahi, sebab tanda-tanda birahi seringkali terjadi pada malam hari.

Maka dari itu para peternak sapi diharapkan dapat memperhatikan kejadian birahi dengan baik dengan cara, mencatat siklus birahi semua sapi betinanya (dara dan dewasa).

Petugas IB harus mensosialisasikan cara-cara mendeteksi tanda-tanda birahi yakni dengan salah satu cara yang sederhana dan murah untuk membantu petani untuk mendeteksi birahi.

Dalam mendeteksinya gampang, yakni cukup dengan memberi cat diatas ekor, jika sapi betina minta kawin (birahi) cat akan kotor/pudar menghilang disebabkan karena gesekan akibat dinaiki oleh betina yang lain.

Cara Penyerentakan Birahi Dengan Hormon

Untuk cara penyerentakan birahi dengan hormon yakni dengan cara melaksanakan penyuntikan hormon pertama, dan pastikan bahwa:

  • Yang pertama harus dalam keadaan sehat dan tidak kurus (kaheksia) pada sapi betina resipien.
  • Yang kedua sapi harus tidak dalam keadaan bunting, jika sapi sedang dalam keadaan bunting dan penyerentakkan birahi dilakukan maka yang akan terjadi adalah keguguran.
  • Selang 11 hari laksanakan penyuntikan hormon kedua, setelah penyuntikan pertama. Kemungkinan birahi akan terjadi 2 sampai 4 hari setelah penyuntikan kedua.

Nah sampai disini dulu ya pembahasan kali ini, tentang inseminasi buatan pada sapi. Semoga apa yang dituliskan oleh penulis dia atas dapat menjadi pedoman dan juga referensi untuk kita,terutama para masyarakat peternak sapi.